Selasa, 11 November 2014

PROTOZOA

Standard



BAB I
Pendahuluan

1.1  Latar Belakang
      Protozoa merupakan organisme bersel tunggal yang sudah memiliki membran inti (eukariota). Protozoa umumnya dapat bergerak aktif karena memiliki alat gerak berupa kaki semu (pseudopodia), bulu cambuk (flagellum), bulu getar (cilia), namun ada juga yang tidak  memiliki alat gerak. Sebagian besar Protozoa hidup bebas di air tawar dan laut sebagai komponen biotik. Beberapa jenis Protozoa hidup sebagai parasit pada hewan dan manusia. Protozoa hidup secara heterotrop dengan memangsa bakteri, protista lain, dan sampah organisme.
      Lebih dari 64.000 spesies protozoa telah dikenal. Diperkirakan 32.000 berupa fosil, 22.000 merupakan bentuk-bentuk yang hidup bebas, dan 10.000 adalah parasit.
Makanan protozoa meliputi bakteri, jenis protista lain, atau detritus (materi organic dari organisme mati). Protozoa hidup soliter atau berkoloni. Jika keadaan lingkungan kurang menguntungkan, protozoa membungkus diri membentuk kista untuk mempertahankan diri. Bila mendapat lingkungan yang sesuai hewan ini akan aktif lagi. Cara hidupnya ada yang parasit, saprofit, dan ada yang hidup bebas (soliter).

1.2  Rumusan Masalah
      Ada pun yang menjadi permasalahan yang akan dibahas dalam makalah ini, antara lain:

  • ·         Bagaimanakah ciri dan karakteristik  protozoa?
  • ·         Bagaimanakah klasifikasi protozoa?
  • ·         Bagaimana reproduksi protozoa?
  • ·         Bagaimana patogenitasnya?


1.3  Tujuan
Ada pun tujuan dari peyusunan makalah ini yaitu untuk mengetahui dan memahami tentang kehidupan pada organisme protozoa serta klasifikasinya, dan untuk melengkapi tugas mata kuliah Mikrobiologi Farmasi.




BAB II
Pembahasan

2.1  Pengertian Protozoa
Protozoa berasal dari bahasa Yunani, yaitu protos artinya pertama dan zoon artinya hewan. Jadi ,Protozoa adalah hewan pertama. Protozoa merupakan kelompok lain protista eukariotik. Kadang-kadang antara algae dan protozoa kurang jelas perbedaannya. Kebanyakan Protozoa hanya dapat dilihat di bawah mikroskop. Habitat hidupnya adalah tempat yang basah atau berair. Jika kondisi lingkungan tempat hidupnya tidak menguntungkan maka protozoa akan membentuk membran tebal dan kuat yang disebut Kista.
Ada beberapa protozoa yang menyebabkan penyakit pada binatang, termasuk manusia. Mereka itu berkembang biak di dalam inangnya, kurang lebih sama seperti bakteri. Beberapa hanya hidup sebagai parasit  obligat dan dapat menimbulkan penyakit kronis atau akut pada manusia . Beberapa penyakit yang disebabkan oleh protozoa pada manusia adalah amebiasis dan malaria.

Morfologi
Ukuran dan bentuk protozoa sangat beragam. Beberapa berbentuk lonjong atau membola, ada yang memanjang , ada pula yang polimorfik. Sel protozoa yang khas terbungkus oleh membrane sitoplasma. Banyak yang dilengkapi dengan lapisan luar sitoplasma, yaitu ektoplasma, yang dapat dibedakan dari sitoplasma bagian dalam, atau endoplasma. Kebanyakan struktur selular terdapat dalam endoplasma.
Setiap sel protozoa paling tidak mempunyai satu nukleus. Akan tetapi, banyak protozoa mempunyai nukleus bahu rangkap di sebagian besar siklus hidupnya. Pada siliata terdapat satu makronukleus besar dan satu mikronukleus kecil. Makronukleus mengawasi kegiatan metabolisme dan proses pertumbuhan serta proses regenerasi, sedangkan mikronukleus mengendalikan kegiatan reproduksi.

          Ciri-ciri Protozoa

Protozoa adalah mikroorganisme menyerupai hewan yang merupakan salah satu filum dari Kingdom Protista. Seluruh kegiatan hidupnya dilakukan oleh sel itu sendiri dengan menggunakan organel-organel antara lain membran plasma, sitoplasma, dan mitokondria.

Ciri-ciri umum:
1. Umumnya tidak dapat membuat makanan sendiri  (heterotrof)
2. Protozoa memiliki alat gerak yaitu ada yang berupa kaki semu, bulu getar (cillia) atau bulu     cambuk (flagel).
3. Hidup bebas, saprofit atau parasit
4. Organisme bersel tunggal
5.Eukariotik atau memiliki membran nukleus/ berinti sejati
6.Hidup soliter (sendiri) atau berkoloni (kelompok)
7.Dapat membentuk sista untuk bertahan hidup. sista, merupakan bentuk sel protozoa yang terdehidrasi dan berdinding tebal mirip dengan endospora yang terjadi pada bakteri
8.Protozoa mampu bertahan hidup dalam lingkungan kering maupun basah.
9.Protozoa tidak mempunyai dinding sel
10.Protozoa merupakan organisme mikroskopis yang prokariot

2.2  Klasifikasi Protozoa
Filum protozoa dapat dibagi menjadi empat utama yang didasarkan pada bentuk gerak ahlinya : Flagelata, amoeba, siliata, dan sporozoa.

Flagellata (Mastigophora)

Bergerak dengan flagel (bulu cambuk)  yang digunakan juga sebagai alat indera dan alat bantu untuk menangkap makanan. Dibedakan menjadi 2 (dua), yaitu :
Fitoflagellata dan Zooflagellata.
Flagellata autotrofik (berkloroplas), dapat  berfotosintesis. Contohnya : Euglena viridis,  Noctiluca milliaris, Volvox globator.   
Flagellata heterotrofik (Tidak berkloroplas).Contohnya : Trypanosoma gambiens, Leishmania
Contoh Flagellata adalah Trypanosoma sp. yang hidup secara parasit dalam darah manusia dan vertebrata lainnya, berkembang biak dengan membelah diri, dan menyebabkan penyakit tidur pada manusia. Penyakit ini ditularkan melalui gigitan lalat tse-tse.

Ciliata (Ciliophora)

Anggota Ciliata ditandai dengan adanya silia (bulu getar) pada suatu fase hidupnya, yang digunakan sebagai alat gerak dan mencari makanan. Ukuran silia lebih pendek dari flagel  Memiliki 2 inti sel (nukleus), yaitu makronukleus (inti besar) yang mengendalikan fungsi hidup sehari-hari dengan cara mensisntesis RNA, juga penting untuk reproduksi aseksual, dan mikronukleus (inti kecil) yang dipertukarkan pada saat konjugasi untuk proses reproduksi seksual. Ditemukan vakuola kontraktil yang berfungsi untuk menjaga keseimbangan air dalam tubuhnya. Banyak ditemukan hidup di laut maupun di air tawar.
Contoh : Paramaecium caudatum, Stentor, Didinium, Vorticella, Balantidium coli
Contoh Ciliata adalah Paramaecium sp. Paramaecium disebut juga hewan sandal, karena bentuknya menyerupai telapak sandal.terdapat mulut sel pada permukaan membrane sel yang melekuk. Air dan makanan masuk ke mulut sel dengan getaran silia. Makanan yang masuk ke mulut sel lalu masuk ke kerongkongan sel, lalu ke vakuola makanan. Vakuola makanan beredar dalam sel sambil mencerna makanan. Sisa makanan berbentuk cair dikeluarkan melalui vakuola berdenyut/vakuola kontraktil, sementara sisa makanan berbentuk padat dikeluarkan melalui vakuola makanan yang pecah saat menepi ke membran sel.

Apicomplexa (Sporozoa)

Tidak memiliki alat gerak khusus, menghasilkan spora (sporozoid) sebagai cara berkembang biakannya. Sporozoid memiliki organel-organel kompleks pada salah satu ujung (apex) selnya yang dikhususkan untuk menembus sel dan jaringan inang. Hidupnya parasit pada manusia dan hewan. Contoh : Plasmodium falciparum, Plasmodium malariae,
Plasmodium vivax. Gregarina.
Plasmodium sp., penyebab penyakit malaria. Penyakit ini ditularkan melalui gigitan nyamuk Anopheles sp.

Rhizopoda

Bergerak dengan kaki semu (pseudopodia)yang merupakan penjuluran protoplasma sel. Hidup di air tawar, air laut, tempat-tempat basah, dan sebagian ada yang hidup dalam tubuh hewan atau manusia.Jenis yang paling mudah diamati adalah Amoeba.
Ektoamoeba adalah jenis Amoeba yang hidup di luar tubuh organisme lain (hidup bebas), contohnya Ameoba proteus, Foraminifera, Arcella, Radiolaria.
Entamoeba adalah jenis Amoeba yang hidup di dalam tubuh organisme, contohnya Entamoeba histolityca, Entamoeba coli.
.
Ciri-ciri Rhizopoda sebagai berikut:
  • Tidak memiliki bentuk yang tetap.
  • Bergerak dan menangkap makanannya dengan kaki semu (pseudopodia) yang merupakan penjuluran sitoplasma tubuhnya. Rhizopoda bergerak dengan menjulurkan kaki semunya untuk berpindah tempat.
  • Ada yang hidup bebas di alam dan ada yang parasit.
  • Makanannya berupa bakteri atau bahan organik lain.
  • Berkembang biak dengan membelah diri.
Contoh anggota Rhizopoda adalah Amoeba sp., Foraminifera yang digunakan sebagai petunjuk dalam penyelidikan tanah yang mengandung minyak bumi, dan Radiolaria yang membentuk tanah radiolaria yang bermanfaat sebagai alat penggosok.

Peranan Protozoa

Peran menguntungkan :
  1. Mengendalikan populasi Bakteri, sebagian Protozoa memangsa Bakteri sebagai makanannya, sehingga dapat mengontrol jumlah populasi Bakteri di alam.
  2. Sumber makanan ikan, di perairan sebagian Protozoa berperan sebagai plankton (zooplankton)  dan benthos yang menjadi makanan hewan air, terutama udang, kepiting, ikan, dan lain-lain.
  3. Indikator minyak bumi, Fosil Foraminifera menjadi petunjuk sumber minyak, gas, dan mineral.
  4. Bahan penggosok, Endapan Radiolaria di dasar laut yang membentuk tanah radiolaria, dapat dijadikan sebagai bahan penggosok.
Peran merugikan :

Protozoa menyebabkan penyakit pada manusia dan hewan ternak. Penyakit-penyakit yang disebabkan Protozoa antara lain :

Jenis penyakit
Protozoa
Disentri
Diare (Balantidiosis)
Penyakit tidur (Afrika)
Toksoplasmosis (kematian janin)
Malaria tertiana
Malaria quartana
Malaria tropika
Kalaazar
Surra (hewan ternak)
Entamoeba histolytica
 Balantidium coli
Trypanosoma gambiense
Toxoplasma gondii
Plasmodium vivax
Plasmodium malariae
Plasmodium falciparum
Leishmania donovani
Trypanosoma evansi

2.3  Reproduksi Protozoa
Merupakan filum hewan bersel satu yang dapat melakukan reproduksi seksual (generatif) maupun aseksual (vegetatif).
1.      Secara Aseksual (Vegetatif)
Sebagian besar Protozoa berkembang biak secara aseksual (vegetative) dengan cara :
a.       Pembelahan Mitosis (biner), yaitu pembelahan yang diawali dengan pembelahan inti dan diikuti pembelahan sitoplasma, kemudian menghasilkan 2 sel baru. Pembelahan biner terjadi pada amoeba, paramaecium, euglena. Paramaecium membelah secara membujur atau memanjang setelah terlebih dahulu melakukan konjugasi. Euglena membelah secara membujur atau memanjang (longitudinal).
b.      Spora, Perkembangbiakan aseksual pada kelas Sporozoa (Apicomplexa) dengan membentuk spora melalui proses sporulasi di dalam tubuh nyamuk Anopheles Spora yang diihasilkan disebut sporozoid.

2.   Secara Seksual (Generatif)
Perkembangbiakan secara seksual pada protozoa dengan cara :
a.       Konjugasi, peleburan inti sel pada organism yang belum jelas alat kelaminnya. Pada Paramaecium mikronukleus yang sudah dipertukarkan akan melebur dengan makronukleus, proses ini disebut singami.
b.      Peleburan gamet Sporozoa (Apicomplexa) telah dapat menghasilkan gamet jantan dan gamet betina. Peleburan gamet ini berlangsung di dalam tubuh nyamuk.

2.4  Patogenitas

Contoh

Entamoeba coli

 E.coli memiliki bentuk trofozoit dan kista.Trofozoit ditandai dengan ciri-ciri  morfologi berikut:
1. bentuk ameboid,ukuran15-50μm
2. sitoplasma mengandung banyak vakuola  yang berisi bakteri, jamur dan debris (tanpaeritrosit)
3. nukleus dengan karyosom sentral dan kromatin mengelilingi pinggirannya.
4. Pseudopodia kurang lebar, sehingga tidak progresif dalam bergerak

Patogenesis
•Infeksi  E.coli bersifat asimtomatis dan non patogen. Namun parasit E.coli sering  dijumpai bersamaan dengan  infeksi E.histolytica pada penderita amebiasis.
•Diagnosis dilakukan dengan pemeriksaan tinja. Bentuk trofozoit E.coli agak sukar dibedakan dengan  bentuk prekista E.histolytica.
•Kista mudah dibedakan bila telah memiliki lebih dar i4 inti.
•Pengobatan tidak diperlukan karena protozoaini non patogen

Entamoeba gingivalis

·        Keseluruhan mengandung butir-butir atau banyak vakuola terutama vakuola-vakuola makanan didalam sitoplasma.
·         Intisel berbentuk bola, diameternya2-4 mikron
·         Terdapat endosome didalam ini  yang terletak hamper ditengah
·         Tidak mempunyai kista, tetapi didalam culture ada bentuk kistoid
·         Ukurannyakira-kira12-30 mikron diameternya.

Patogenesis

      E. gingivalis sebelumnya dianggap parasit yang komensal, sampai akhirnya beberapa peneliti menemukan bahwa E. gingivalis bersifat patogen yaitu dapat memfagosit sel darah putih dan sel darah merah.

Dientamoeba fragilis

Bentuk bulat memanjang, bulat, dan memiliki flagela. Dientamoeba fragilis hanya ditemukan dalam fase trophozoit, tidak ditemukan fase kistanya. Ciri trophozoit:

•Ukurannya kecil (5 to 15 μm)
•Berinti dua
•Bentuk bulat (saat tidak bergerak)
•Pergerakannya cepat
•Pseudopodium banyak dengan bentuk seperti daun.

Patogenesis

     Infeksi oleh Dientamoeba fragile sdisebut Dientamoebiasis, dengan gejala nyeri dibagian perut,penurunan berat badan, diare, anoreksia, mual-mual, dan demam. Jika infeksi sudah kronis, gejala yang muncu lakan berlangsung hingga lebih dari dua bulan.
PencegahandanPengobatan

     Pencegahan dengan cara, membiasakan cuci tangan sebelum makan dan saat menyiapkan makanan. Obat yang amandan efektif sudah tersedia.

Endolimax nana

·         Merupakan spesies yang komensal diusus
·         Merupakan protozoa yang hidup parasit didalam alat pencernaan dan alat kelamin manusia
·         Tropozoitnya berbentuk bulat,sitoplasma seperti jala dan mengandung bakteri
·         Endosome umumnyaberbentuk segitiga, segi empat/sisinya tak teratur, letaknya ditengah
·         Kista sitoplasmanya seperti jala ,inti bervariasi jumlahnya dari satu–empat, dan strukturnya sama seperti tropozoit.

Pencegahan dan pengobatan

•Pengandung kista tidak diperbolehkan menyentuh atau memegang makanan
•Diberi penerangan higiene per orangan dan harus di obati
•Sanitasi lingkungan yang baik dengan cara menghindarkan kontaminasi air dan makanan
•Pembuangan kotoran dan sampah pada tempat yang baik
•Pengobatannya istirahat, mendapat makanan yang lunak, banyak protein, vitamin, serat cairan cukup, dan kemoterapi






BAB III
Penutup
3.1 Kesimpulan
Berdasarkan dari uraian dan penjelasan di atas maka dapat disimpulkan bahwa :
1.      Protozoa merupakan organisme yang menyerupai hewan yang merupakan salah satu filum dari  kingdom protista.
2.      Filum protozoa dapat dibagi menjadi empat utama yang didasarkan pada bentuk gerak ahlinya : Flagelata, amoeba, siliata, dan sporozoa.
3.      Protozoa merupakan filum hewan bersel satu yang dapat berkembangbiak secara seksual dan aseksual.
4.      Contoh dari bakteri protozoa yang memiliki patogenitas yaitu Entamoeba coli, Entamoeba gingivalis, Dientamoeba fragilis,dan Endolimax nana.





DAFTAR PUSTAKA
    Michael J.Pelczar,.et.al.1986.Dasar-dasar Mikrobiologi.Jakarta: Penerbit Universitas Indonesia(UI-Pres).  


Jumat, 07 November 2014

Simplisia

Standard
BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Pemanfaatan tanaman obat sebagai obat tradisional merupakan suatau produk pelayanan kesehatan yang strategis karena berdampak positif terhadap tingkat kesehatan dan kesejahteraan masyarakat.
Tanaman obat dapat memberikan nilai tambah apabila diolah lebih lanjut menjadi berbagai jenis produk. Tanaman obat tersebut dapat diolah menjadi berbagai macam produk seperti simplisia (rajangan), serbuk, minyak atsiri, ekstrak kental, ekstrak kering, instan, sirup, permen, kapsul maupun tablet.
Simplisia merupakan bahan alami yang digunakan sebagi bahan baku obat yang mengalami pengolahan, tetapi sudah dikeringkan. Permintaan bahanbaku simplisia sebagai bahan baku obat-obatan semakin meningkat dengan bertambahnya industri jamu. Selain itu, efek samping penggunaan tanaman obat untuk mengobati suatu penyakit lebih kecil dibandingkan obat sintetis.
Proses pembuatan simplisia diperlukan beberapa tahapan yaitu pengumpulan bahan baku, sortasi basah, pencucian, perajangan, pengeringan, sortasi kering, pengepakan dan penyimpanan. Agar simplisia memiliki mutu dan ketahanan kualitas yang baik, selain proses pengumpulan baku, sortasi basah, pencucian, perajangan, pengeringan dan sortasi kering, juga perlu diperhatikan proses pengepakan dan penyimpanan karena sangat berpengaruh pada kandungan kadar zat aktif dalam simplisia.

1.2 Rumusan Masalah
Ada pun yang menjadi permasalahan yang akan dibahas dalam makalah ini, antara lain:
1.         Menjelaskan 9 tahap-tahap pembuatan simplisia secara berurutan
2.         Menjelaskan apa gunanya pengeringan pada pembuatan simplisia
3.         Menjelaskan hal-hal apa saja yang harus diperhatikan pada proses pengeringan simplisia
4.         Menjelaskan faktor-faktor apa saja yang bias menyebabkan terjadinya proses Face Hardenindan bagaimana cara menghindarkan terjadinya proses tersebut
5.         Menjelaskan apa yang disebut dengan pengeringan secara alami dan menjelaskan tahap-tahap apa saja yang harus dilakukan
6.          Menjelaskan apa yang disebut dengan pengeringan secara buatan dan tahap-tahap apa saja yang harus dilakukan dan ada berapa macam cara-cara pengeringan yang bias dilakukan  

1.3 Tujuan
Adapun tujuan dari pembuatan makalah ini :
1.         Untuk mengetahui apa yang dimaksud dengan simplisia
2.         Untuk mengetahui Tahap-tahap dari proses pembuatan simplisia
3.         Untuk mengetahui apa yang dimaksud dengan pengeringan
4.         Untuk mengetahui factor penyebab face hardening
5.         Untuk mengetahui apa itu pengeringan secara alami dan secara buatan

1.4 Manfaat
Ada pun manfaat yang dapat diambil dari pembuatan makalah ini, antara lain:
1.      Dapat mengetahui apa yang dimaksud dengan simplisia
2.      Dapat mengetahui Tahap-tahap dari proses pembuatan simplisia
3.      Dapat mengetahui apa yang dimaksud dengan pengeringan
4.      Dapat mengetahui factor penyebab face hardening
5.      Dapat mengetahui apa itu pengeringan secara alami dan secara buatan




BAB II
PEMBAHASAN
2.1 Simplisia
        Apakah simplisia itu? adalah bahan alamiah yang digunakan sebagai obat yang   belum   mengalami pengolahan apapun juga, kecuali dinyatakan lain, berupa  bahan yang telah dikeringkan.  Simplisia di bagi menjadi 3, yakni simplisia Nabati, Hewani, dan Mineral. Ada pun macam-macam simplisia antara lain:
1.         Simplisia Nabati adalah simplisia berupa tanaman utuh,bagian tanaman  atau eksudat tanaman.
2.         Simplisia Hewani adalah adalah simplisia yang berupa hewan utuh, bagian hewan atau  zat-zat yang berguna yang dihasilkan oleh hewan dan belum  berupa zat  kimia murni.
3.         Simplisia mineral adalah adalah simplisia yang berupa mineral (pelikan) yang belum diolah atau diolah dengan cara sederhana dan belum berupa zat kimia murni.
Ada beberapa factor yang mempengaruhi kualitas simplisia :
1.         Bahan –bahan simplisia dan cara penanganan / penyimpanan
2.         Proses pembuatan/ pengolahan simplisia
3.         Cara pengemasan dan penyimpanan simplisia

A.      PEMBUATAN SIMPLISIA SECARA UMUM 

1.    Bahan Baku
     
Tanaman obat yang menjadi sumber simplisia nabati merupakan salah satu faktor yang dapat mempengaruhi simplisia. Sebagai sumber simplisia, tanaman obat dapat berupa tumbuhan liar atau berupa tanaman budidaya. Tumbuhan liar adalah tumbuhan yang tumbuh dengan sendirinya di hutan atau ditempat lain, atau tanaman yang sengaja ditanam dengan tujuan lain, misanya sebagai tanaman hias, tanaman pagar tetapi bukan dengan tujuan untuk memproduksi simplisia.

 Tanaman budidaya adalah tanaman yang sengaja ditanam untuk tujuan produksi simplisia. Tanaman budidaya dapat diperkebunkan secara luas, dapat diusahakan oleh petani secara kecil-kecilan yang berupa tanaman tumpang sari atau Taman Obat Keluarga.

 Taman Obat Keluarga adalah pemanfaatan pekarangan yang secara sengaja digunakan untuk menanam tanaman obat. Taman Obat Keluarga selain bertujuan untuk dijadikan tempat memperoleh bahan baku simplisia, dapat berfungsi pula sebagai tanaman hias, taman gizi, taman buah-buahan, pagar pekarangan dan sebagainya.

      Tumbuhan liar umumnya kurang baik untuk dijadikan sumber simplisia jika dibandingkan dengan tanaman budidaya, karena simplisia yang dihasilkan mutunya tdak tetap.

Hal ini terutama disebabkan :

1.     1  Umur tumbuhan atau bagian tumbuhan yang dipanen tidak tepat dan berbeda-beda. Umur tumbuhan atau bagian tumbuhan yang dipanen berpengaruh pada kadar senyawa aktif. Ini berarti bahwa mutu simplisia yang dihasilkan sering tidak sama, karena umur saat panen tidak sama.

2.   Jenis (Species) tumbuhan yang dipanen sering kurang diperhatikan, sehingga simplisia yang diperoleh tidak sama. Sering juga terjadi kekeliruan dalam menetapkan suatu jenis tumbuhan, karena dua jenis tumbuhan dalam satu marga (genus) sering mempunyai bentuk morfologis yang sama. Untuk itu pengumpul harus merupakan seorang ahli atau berpengalaman dalam mengenal jenis-jenis tumbuhan. Perbedaan jenis tumbuhan akan memberikan perbedaan pada kandungan senyawa aktif, yang berarti mutu simplisia yang dihasilkan akan berbeda pula.

3. Lingkungan tempat tumbuh yang berbeda seringkali mengakibatkan perbedaan kadar kandungan senyawa aktif. Pertumbuhan tumbuhan dipengaruhi tinggi tempat, keadaan tanah dan cuaca.


Perusahaan obat tradisional yang menggunakan simplisia berasal dar tumbuhan liar, selain mutu yang berbeda, sering pula menyebabkan harga yang bervariasi. Usaha membudidayakan tanaman obat untuk simplisia, diharapkan dapat mengatasi masalah tersebut.

                  Keseragaman umur pada saat panen, lingkungan tempat tumbuh dan jenis yang benar dapat ditentuka dan diatur sesuai dengan tujuan untuk memperoleh mutu simplisia yang seragam. Selain itu, tanaman budidaya dapat diusahakan untuk meningkatkan mutu simplsia dengan jalan :

1. Bibit dipilih untuk mendapatkan tanaman unggul, sehingga simplisia yang dihasilkan memiliki kandungan senyawa aktif yang tinggi.

2. Pengolahan tanah, pemeliharaan, pemupukan dan perlindungan tanaman dilakukan dengan saksama dan bila mungkin menggunakan teknologi tepat guna.

2.      Dasar Pembuatan

a. Simplisa dibuat dengan cara pengeringan

Pembuatan simplisia dengan cara ini pengeringannya dilakukan dengan cepat, tetapi pada suhu yang tidak terlau tinggi. Pengeringan yang dilakukan dengan waktu lama akan mengakibatkan simplisia yang diperoleh ditumbuhi kapang.

Pengeringan yang dilakukan pada suhu terlalu tinggi akan mengakibakan perubahan kimia pada kandungan senyawa aktifnya. Untuk mencegah hal tersebut, untuk bahan simplisia yang memerlukan perajangan perlu diatur perajangannya, sehingga diperoleh tebal irisan yang sama pada pengeringan dan tidak mengalami kerusakan.

b. Simplisia dibuat dengan proses fermentasi

   Proses fermentasi dilakukan dengan saksama, agar proses tersebut berkelanjutan ke arah yang tidak diinginkan.

c. Simplisia dibuat dengan proses khusus

Pembuatan simplisia dengan cara penyulingan, pengentalan, eksudat nabati, pengeringan sari air dan proses khusus lainya dilakukan dengan berpegang pada prinsip bahwa simplisia yang dihasilkan harus memiliki mutu yang sesuai dengan persyaratan.

d. Simplisia pada proses pembuatan memerlukan air

Pati sebagainya pada proses pembuatannya memerlukan air. Air yang digunakan harus bebas dari pencemaran racun serangga, kuman pathogen, logam berat dan lain-lain.
                                      
3.      Tahapan Pembuatan

Pada umumnya pemuatan simplisia melalui tahapan seperti berikut :
pengumpulan bahan baku, sortasi basah, pencucian, perajangan, pengeringan, sortasi kering, pengepakan, penyimpanan dan pemeriksaan mutu.

a.    Pengumpulan Bahan Baku.

 Kadar senyawa aktif dalam suatu simplisia berbeda-beda, antara lain tergantung pada :

 1.    Bagian tanaman yang digunakan.
 2.    Umur tanaman atau bagian tanaman yang digunakan.
 3.    Waktu panen.
 4.    Lingkungan tempat tumbuh.

Pedoman panen :

a.          Biji, yang telah tua
b.         Buah, waktu pemetikan buah dikaitkan dengan tingkat kematangan
c.          Daun (pucuk), pengambilan saat tanaman mengalami perubahan pertumbuhan dari vegetative dan generative.
d.         Daun (tua), dipilih yang telah membuka sempurna dan terletak di bagian cabang atau batang yang menerima matahari dengan sempurna.
e.          Kulit batang, di ambil saat tanaman telah cukup umur dan musim yang menguntungkan pertumbuhan
f.          Umbi lapis, diambil saat umbi telah mencapai besar maksimal dan pertumbuhan di bagian atas berhenti
g.         Rimpang,   pengambilan dilakukan di musim kering yang ditandai mengeringnya bagian atas tanaman. 

b.   Sortasi Basah
Untuk memisahkan kotoran-kotoran dan benda asing lain dari simplisia. Mengurangi kontaminasi mikrobiologi

c.       Pencucian
Bahan yang telah dikupas tersebut tidak memerlukan pencucian apabila pengupasan dilakukan dengan cara yang tepat dan bersih. Pencucian dilakukan untuk menghilangkan tanah dan pengotoran lainnya yang melekat pada bahan simplisia. Pencucian dilakukan dengan menggunakan air bersih mengalir dan kualitasair cucian harus diperhatikan.

d.      Perajangan
        Beberapa jenis simplisia perlu mengalami proses perajangan. Perajangan pada bahan simplisia dilakukan untuk mempermudah proses pengeringan, pengepakan dan penggilingan. Tanaman yang baru diambil jangan lagsung dirajang tetapi dijemur dalam keadaan utuh sejama 1hari. Perajangan dapat dilakukan dengan pisau, dengan alat mesin perajang khusus.

e.    Pengeringan

Tujuan pengeringan adalah untuk mendapatkan simplisia yang tidak mudah rusak, sehingga dapat disimpan dalam waktu yang lebih lama. Dengan mengurangi kadar air dan menghentikan reaksi enzimatik akan dicegah penurunan mutu atau perusakan simplisia.

Air yang masih tersisa dalam simplisia pada kadar tertentu dapat menjadi pertumbuhan kapang dan jasad renik lainnya. Enzim tertentu dalam sel, masih dapat bekerja menguraikan senyawa aktif sesaat setelah sel mati dan selama simplisia tersebut mengandung kadar air.

Pengeringan dapat dilakukan anatar suhu 30-90 , yang paling baik tidak melebihi 60 C , Bila simplisia mengandung bahan aktif tidak tahan panas maka dikeringkan pada suhu 30-45 C atau  dengan cara pengeringan vakum.

 Pengeringan simplisia dilakukan dengan cara menggunakan sinar matahari atau menggunakan sebuah alat pengering. Hal-hal yang perlu diperhatikan dalam pengeringan simplisia adalah suhu pengeringan, kelembaban udara, aliran udara, waktu pengeringan dan luas permukaan bahan. Pada pengeringan bahan simplisia sebaiknya tidak menggunakan peralatan yang terbuat dari plastik. Selama proses pengeringan simplisia hal-hal tersebut harus benar-benar diperhatikan sehingga akan diperoleh hasil simplisia kering yang tidak mudah mengalami kerusakan selama penyimpanan.
Cara pengeringan yang salah dapat juga menyebabkan terjadinya “Face Hardening”, yakni bagian luar bahan sudah kering, sedangkan bagian dalam masih basah. Hal ini disebabkan oleh irisan bahan simplisia yang terlalu tebal, suhu pegeringan tinggi atau terjadi suatu keadaan yang menyebabkan penguapan air pada permukaan bahan jauh lebih cepat dari difusi air dari dalam permukaan tersebut, sehingga permukaan bahan menjadi keras dan menghambat pengeringan selanjutnya. “Face Hardening” dapat mengakibatkan kerusakan atau kebsukan di bagian dalam bahan yang dikeringkan.
Berbagai cara pengeringan telah dikenal dan digunakan orang, pada dasarnya dikenal dua cara pengeringan yaitu pengeringan secara alami dan buatan

·        ALAT PENGERING TENDA SURYA

         Alat pengering tenda surya ini adalah alat untuk mengeringkan bahan simplisia dengan energi surya berbentuk tenda atau kemah. Kapasitas alat tergantung pada jenis bahan yang dikeringkan. Kapasitas alat 35 kg untuk irisan simplisia, dengan waktu pengeringan efektif 8-10 jam dengan suhu pengeringan rata-rata 50.

·        ALAT PENJEMUR

                        Alat penjemur dirancang untuk mengeringkan simplisia dengan energi surya sebagai alternative untuk menggantikan penjemuran dengan cara tradisional di atas alas plastic, alas bambu, lantai semen atau tanah. Tujuannya adalah supaya tanaman simplisia lebih cepat kering, tidak terganggu hujan dan terhindar dari kotaminasi kotoran. Suhu rata-rata yang dicapai oleh alat ini adalah 48,5 , dengan suhu maksimum 56,2  dan suhu minimum 32,5 , dengan suhu udara luar rata-rata adalah 33,5 . Pengeringan dengan alat ini lebih cepat 60% dari penjemuran tradisional.

1Pengeringan Alamiah.
Tergantung dari senyawa aktif yang dikandung dalam bagian tanaman yang  
dikeringkan, dapat dilakukan dua cara pengeringan, yakni :
a.   Dengan panas sinar matahari langsung. Cara ini dilakukan untuk mengeringkan bagian tanaman yang relatif keras seperti kayu, kulit kayu, biji dan lain sebagainya serta mengandung senyawa aktif yang stabil. Pengeringan dengan sinar matahari banyak dipraktekkan di Indonesia, yang mana merupakan salah satu cara dan upaya yang murah dan praktis. Pengeringan ini dilakuan dengan cara membiarkan bahan yang dipotong di udara terbuka diatas tampah-tampah, tanpa kondisi yang terkontrol, seperti suhu kelembaban dan aliran udara. Dengan cara ini kecepatan pengeringan sangat tergantung pada keadaan iklim, sehingga cara ini hanya tepat dilakukan di daerah yang udaranya panas atau kelembabannya rendah, serta tidak turun hujan. Hujan atau cuaca yang mendung dapat memperpanjang waktu pengeringan sehingga memberikan kesempatan pada kapang atau mikroba lainnya untuk tumbuh sebelum simplisia tersebut kering.
b.   Dengan diangin-anginkan an tidak dipanaskan dengan sinar matahari langsung. Cara ini merupakan cara utama yang digunakan untuk mengeringkan bagian tanaman yang lunak seperti bunga, daun dan lain sebagainya serta mengandung senyawa aktif yang mudah menguap.

2Pengeringan Buatan.
Kerugian yang mungkin terjadi jika melakukan pengeringan dengan pengering yang suhu kelembaban, tekanan dan aliran udaranya dapat diatur. Prinsip pengeringan buatan adalah udara dipanaskan oleh suatu sumber panas seperti lampu, kompor, listrik, atau mesin diesel, udara panas dialirkan dengan kipas ke dalam ruangan atau lemari yang berisi bahan-bahan yang akan dikeringkan yang telah disebarkan diatas rak-rak pengering. Dengan prinsip ini dapat diciptakan suatu alat pengering yang mudah, murah, sederhana dan praktis dengan hasil yang cukup baik. Cara yang lain misalnya dengan menempatkan bahan-bahan yang akan dikeringkan diatas pita atau ban berjalan dan melewatkannya melalui suatu lorong atau ruangan yang berisi udara yang telah dipanaskan dan diatur alirannya.
  Dengan menggunakan pengering buatan dapat diperoleh simplisia dengan mutu yang lebih baik, karena pengeringan akan lebih merata dan waktu pengeringan akan lebih cepat tanpa dipengaruhi oleh keadaan cuaca. Sebagai contoh misalnya kita membutuhkan waktu 2 sampai 3 hari untuk penjemuran dengan menggunakan sinar matahari sehingga diperoleh simplisia kering dengan kadar air 10 sampai 12 %, dengan menggunakan suatau alat pengering buatan dapat diperoleh simplisia dengan kadar air yang sama dalam waktu 6-8 jam.
Daya tahan suatu simplisia selama penyimpanan sangat tergantung pada jenis simplisia, kadar airnya dan cara penyimpanannya. Beberapa jenis simplisia yang dapat tahan lama jika kaar airnya diturunkan 4 sampai 8 %, sedangkan simplisia lainnya mungkin masih dapat tahan selama penyimpanan dengan kadar air 10 sampai 12%.
f.  Sortasi Kering.
Sortasi setelah pengeringan sebenarnya merupakan tahapan akhir dari pembutan simplisia. Tujuan sortasi adalah untuk memisahkan benda-benda asing seperti bagian tanaman yang tidak diinginkan dan pengotoran-pengotoran lain yang yang masih ada dan tertinggal pada simplisia kering. Proses ini dilakukan sebelum simplisia dibungkus untuk kemudiandisimpan. Seperti halnya dengan sortasi awal, sortasi disini dapat dilakukan dengan cara mekanik. Pada simplisia berbentuk rimpang terlampau besar dan harus dibuang. Dengan demikian pula adanya partikel-partikel pasir, besi dan benda-benda tanah lainnya yang tertinggal harus dibuang sebelum simplisia dibungkus.
g.  Pengepakan dan Penyimpanan.
Simplisia dapat rusak, mundur atau berubah mutunya karena berbagai faktor luar maupun dalam, antara lain    :
1.  Cahaya   : Sinar dari panjang gelombang tertentu dapat menimbulkan perubahan kimia pada simplisia, misalnya isomerisasi, rasemisasi dan sebagainya.
2.  Oksigen udara : Senyawa tertentu pada simplisia dapat mengalami perubahan kimiawi oleh pengaruh oksigen udara terjadi oksidasi dan perubahan ini dapat berpengaruh pada bentuk simplisia, misalnya, yang semula cair dapat berubah menjadi kental atau padat, berbutir-butir dan lain sebagainya.
3.  Reaksi Kimia : Perubahan kimiawi pada simplisia yang dapat disebabkan Intern        oleh reaksi kima intern, misalnya oleh enzim, polimerisasi, oto-oksidasi dan sebagainya.
4.  Dehidrasi : Apabila kelembaban luar lebih rendah dari simplisia, maka simplisia secara perlahan-lahan akan kehilangan sebagian airnya sehingga semakin lama semakin mengecil (kisut).
5.  Penyerapan air   : Simplisia yang higroskopik, misalnya agar-agar, bila disimpan dalam wadah terbuka akan menyerap lengas udara sehingga menjadi kempal, basah atau mencair (lumer).
6.  Pengotoran: Pengotoran pada simplisia dapat disebabkan oleh berbagai sumber, misalnya debu atau pasir, eksskresi hewan, bahan-bahan asing(misalnya minyak yang tumpah) dan fragmen wadah (karung goni).
7.  Serangga : Serangga dapat menimbulkan kerusakan dan pengotoran pada simplisia, baik oleh bentuk ulatnya maupun oleh bentuk dewasanya. Pengotoran tidak hanya berupa kotoran serangga, tetapi juga sisa-sisa metamorfosa seperti cangkang telur, bekas kepompong, anyaman benang bungkus kepompong, bekas kulit serangga dan sebagainya.
8. Kapang   : Bila kadar air dalam simplisia terlalu tinggi, maka simplisia dapat berkapang. Kerusakan yang timbul tidak hanya terbatas pada jaringan simplisia, tetapi juga akan merusak susunan kimia, zat yang dikandung dan malahan dari kapangnya dapat mengeluarkan toksin yang dapat menganggu kesehatan.
Selama penyimpanan kemungkinan bisa terjadi kerusakan pada simplisia, kerusakan tersebut dapat mengakibatkan kemunduran mutu, sehingga simplisia yang bersangkutan tidak lagi memenuhi persyaratan. Oleh karena itu, pada penyimpanan simplisia perlu diperhatikan hal yang dapat menyebabkan kerusakan pada simplisia, yaitu cara pengepakan, pembungkusan dan pewadahan, persyaratan gudang simplisia, cara sortasi dan pemeriksaan mutu serta cara pengawetannya. Penyebab utama pada kerusakan simplisia yang utama adalah air dan kelembaban. Untuk dapat disimpan dalam waktu lama, simplisia harus dikeringkan terlebih dahulu sampi kering, sehingga kandungan airnya tidak lagi dapat menyebabkan kerusakan pada simplisia.
Cara menyimpan simplisia dalam wadah yang kurang sesuai memungkinkan terjadinya kerusakan pada simplisia karena dimakan kutu atau ngengat yang temasuk golongan hewan serangga atau insekta. Berbagai jenis serangga yang dapat menimbulkan kerusakan pada hampir semua jenis simplisia yang berasal dari tumbuhan dan hewan, biasanya jenis serangga tertentu merusak jenis simplisia tertentu pula. Kerusakan pada penyimpanan simplisia yang perlu mendapatkan perhatian juga ialah kerusakan yang ditimbulkan oleh hewan pengerat seperti tikus.

Cara pengemasan simplisia tergantung pada jenis simplisia dan tujuan penggunaan pengemasan. Bahan dan bentuk pengemasannya harus sesuai, dapat melindungi dari kemungkinan kerusakan simplisia dan dengan memperhatikan segi pemanfaatan ruang untuk keperluan pengangkutan maupun penyimpanannya.
Wadah harus bersifat tidak beracun dan tidak bereaksi(inert) dengan isinya sehingga tidak menyebabkan terjadinya reaksi serta penyimpangan rasa, warna, bau dan sebagainya pada simplisia. Selain itu wadah harus melindungi simplisia dari cemaran mikroba, kotoran, serangga serta mempertahankan senyawa aktif yang mudah menguap atau mencegah pengaruh sinar, masuknya uap air dan gas-gas lainnya yang dapat menurunkan mutu simplisia. Untuk simplisia yang tidak tahan terhadap sinar, misalnya yang banyak mengandung vitamin, pigmen atau minyak, diperlukan wadah yang melindungi simplisa terhadap cahaya, misalnya aluminium foil, plastic atau botol yang berwarna gelap, kaleng dan lain sebagainya.
Bungkus yang paling lazim digunakan untuk simplisia adalah karung goni. Sering juga digunakan karung atau kantong plastik, peti atau drum dari kayu atau karton. Beberapa jenis simplisia terutaman yang berbentuk cairan dikemas dalam botol atau guci porselen. Simplisia yang berasal dari akar, rimpang, umbi, kulit akar, kulit batang, kayu, daun, herba, buah, biji dan bunga sebaiknya dikemas pada karung plastik. Simplisia dari daun atau herba umumnya dimampatkan terlebih dahulu dalam bentuk yang padat dan mampat, dibungkus dalam karung plastik dan dijahit. Untuk keperluan perdagangan  dan ekspor simplisia dalam bungkus plastik tersebut berbobot antara 50 sampai 125 kg tiap bal.
Simplisia yang mudah menyerap air, udara perlu dibungkus rapat untuk mencegah terjadinya penyerapan kelembaban tersebut. Sesudah dikeringkan sampai cukup kering di bungkus dengan karung atau kantong plastic, dalam peti drum atau kaleng besi berlapis. Pada penyimpanannya, simplisia tersebut dimasukkan dalam wada yang tertutup rapat dan seringkali perlu diberi kapur tohor sebagai bahan pengering.
Gom dan damar dikemas dalam wadah drum, peti yang terbuat dari karton, kayu atau besi berlapis sedangkan simplisia aroma atau baunya perlu dipertahankan, harus dikemas dalam peti kayu berlapis timah. Kaleng atau aluminium dapat digunakan sebagai wadah untuk simplisia kering terutama jika diperlukan penutupan secara vakum. Akan tetapi kaleng dan bahan aluminium bersifat korosif dan mudah bereaksi dengan bahan yang disimpan di dalamnya, sehingga kaleng atau aluminium biasanya harus diberi lapisan khusus misalnya lapisan oleoresin, vinil, malam ataupun bahan yang lainnya.
 Sifat wadah gelas yang mengguntungkan adalah tidak beraksi, tetapi penggunaan wadah gelas terbatas, karena gelas mudah pecah dan berat, sehingga menyulitkan dalam pengangkutan. Kertas dan karton tidak dapat digunakan sebagai pembungkus simplisia secara sempurna oleh karena itu, biasanya bahan pembungkus kertas perlu dilapis lagi dengan lilin, damar, atau plastik untuk mencegah keluar masuknya gas dan uap air.
Plastik biasanya digunakan untuk membungkus simplisia kering, tetapi penggunaan plastik tidak tahan panas dan mudah menguap. Sekarang ini, aluminium foil mulai banyak digunakan karena sifatnya mengguntungkan, diantaranya mudah dilipat, ringan serta dapat mencegah keluar masuknya air dan zat-zat yang mudah menguap lainnya.
Penyimpanan simplisia kering, biasanya dilakukan pada suhu kamar (15 sampai 30 , tetapi dapat pula dilakukan ditempat sejuk (5  sampai 15 ), atau tempat dingin (0  sampai 5 ), tergantung dari sifat dan ketahanan simplisia tersebut. Kelemaban udara di ruang penyimpanan simplisia kering, sebaiknya diusahakan serendah mungkin untuk mencegah terjadinya penyerapan uap air. Di Indonesia daun tembakau dikemas dalam keranjang bambu yang bagian dalamnya diberi lapisan pelepah daun pisang yang telah dikeringkan.
Simplisia harus disimpan didalam ruangan penyimpanan khusus atau dalam gudang simplisia, terpisah dari tempat penyimpanan bahan lainnya maupun alat-alat. Gudang simplisia harus mempunyai bentuk dan ukuran yang sesuai dengan fungsinya, dibuat dengan konstruksi permanen yang cukup kuat dan dipelihara dengan baik. Gudang harus mempunyai ventilasi udara yang cukup baik dan bebas dari kebocoran dan kemungkinan kemasukan air hujan.
 Perlu dilakukan pencegahan kemungkinan kerusakan simplisia yang ditimbulkan oleh hewan, baik serangga maupun tikus yang sering memakan simplisia yang disimpan. Untuk mencegah tertariknya serangga pemakan simplisia ataupun lalat dan nyamuk, gudang harus bersih dan bebas dari sampah. Untuk mencegah masuknya tikus ke dalam gudang simplisia, sedapat mungkun lubang ventilasi, lubang-lubang saluran air dan lubang-lubang lainnya diberi tutup yang sesuai seperti kasa kawat atau yang lainnya.
Cara penyimpanan simplisia dalam gudang harus diatur sedemikian rupa, sehingga tidak menyulitkan pemasukan dan pengeluaran bahan simplisia yang disimpan. Untuk simplisia yang sejenis, harus diberlakukan prinsip “ pertama masuk, pertama keluar ”, untuk itu perlu dilakukan administrasi pergudangan yang teratur dan rapi.
Semua simplisia dalam bungkus atau wadahnya masing-masing harus diberi label dan dicantumkan nama jenis, asal bahan, tanggal penerimaan, dan pemasukan dalam gudang. Dalam jangka waktu tertentu dilakukan pemeriksaan gudang secara umum, dilakukan pengecekkan dan pengujian mutu terhadap semua simplisia.
Simplisia yang setelah diperiksa ternyata tidak lagi memenuhi syarat yang ditentukan misalnya tumbuh kapang, dimakan serangga, berubah warna, berubah bau dan lain sebagainya dikeluarkan dari gudang dan dibuang.
h. Pemeriksaan Mutu
Pemeriksaan mutu simplisia dilakukan pada waktu penerimaan ataupembeliannya dari pengumpul atau pedagang simplisia. Agar diperoleh simplisia dengan mutu yang mantap, seyogyanya disediakan contoh pada tiap-tiap simplisia dengan mutu yang pasti dan memenuhi syarat yang mana dapat dipergunakan sebagai pembanding simplisia.
Pada tiap-tiap penerimaan atau pembelian simplisia tertentu diperlukan pengujian mutu yang dicocokkan dengan simplisia pembanding. Contoh simplisia pembanding tersebut disimpan pada tempat secara khusus untuk menjaga mutunya, dan setiap jangka waktu tertentu diperiksa kembali mutunya dan apabila kedapatan penurunan mutu maka perlu dilakukan pergantian simplisa pembandingang baru.
        Secara umum, simplisia yang tidak memenuhi syarat seperti kekeringan, ditumbuhi kapang, mengandung lendir, sudah berbau dan berubah warna, berserangga atau termakan serangga harus dilakukan penolakan oleh penerimanya. Pada pemeriksaan mutu simplisia, pemeriksaan dilakukan dengan cara organoleptik, makroskopik, mikroskopik atau dengan cara kimia. Beberapa jenis simplisia tetentu ada yang perlu diperiksa dengan uji mutu secara biologi.
        Pemeriksaan organoleptik dan makroskopik dilakukan dengan menggunakan indera manusia dengan cara mengamati bentuk, warna dan bau simplisia. Ada kalanya membutuhkan alat optik berupa kaca pembesar maupun mikroskop. Sebaiknya pemeriksaan mutu organoleptik dilanjutkan dengan pemeriksaan mikroskopik dengan menggunakan mikroskop dengan mengamati ciri-ciri anatomi histologi terutama untuk menegaskan keaslian simplisia dan pemeriksaan untuk menetapkan mutu berdasarkan senyawa aktif.
        Sebelum disortir, sebaiknya simplisia diayak atau ditampi dulu untuk membuang debu/ pasir yang terikut pada simplisia. Besar kcilnya lubang ayakan disesuaikan dengan ukuran simplisia, misalnya ayakan untuk jinten hitam dan ayakan unyuk kulit kina harus berbeda. Untuk memisahkan bahan organik asing dapat dilakukan sortasi manual dengan menggunakan tangan.
        Cara mencegah kerusakan simplisia pada penyimpanan, terutama adalah memperhatikan dan menjaga kekeringan. Untuk itu pembungkusan dan pewadahan simplisia harus disesuaikan dengan sifat fisika dan kimia dari simplisia tersebut. Simplisia yang dapat menyerap uap air/ udara, dimasukkan atau dibungkus dalam wadah yang rapat, jika perlu dalam wadah yang diberi kapur tohor untuk bahan pengering.
Simplisia yang pada saat penerimaan belum cukup bersih, dicuci dengan air bersih, dikeringkan sampai cukup kering, dibungkus atau dimasukkan dalam wadah yang sesuai baru disimpan dalam gudang simplisia.



BAB III
PENUTUP
3.1  Kesimpulan
Ada beberapa hal yang harus diperhatikan dalam proses pembuatan simplisia, mulai dari  :
  • ·        Tahap-tahap pembuatan simplisia yang baik
  • ·         Bahan baku yang disesuaikan
  • ·      Proses pengeringan bahan baku dengan melihat kandungan senyawa aktif yang mudah menguap dan tidak tahan panas
  • ·   Faktor yang mempengaruhi pengeringan simplisia, agar tidak mengalami face hardening , sehingga menghasilkan simplisia yang bermutu baik dan tidak mudah rusak. 





DAFTAR PUSTAKA

Tjitrosoepomo, G., 2001, Morfologi Tumbuhan., Gadjah Mada University Press., Yogyakarta.
Widyaningrum, MPH. 2011. Kitab Tanaman Obat Nasional. Media Pressindo. Jakarta